Tanggal 14 Mei 2014 adalah suatu hari yang mengisahkan suatu
cerita yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Hari dimana kebingungan dan
kegalauan sempat melanda diriku. Akhirnya, aku memutuskan untuk melangkahkan
kaki ke kampus. Saya berjuang untuk konsentrasi untuk mengerjakan apa yang saya
lakukan dengan laptop saya karena seringkali pikiran-pikiran yang memancing
situasi galau itu muncul. Bersyukur hampir 3 jam ak bisa belajar walaupun
hasilnya tidak maksimal.
Abis ngampus, ak menuju tempat perhentian bis dan ga lama ngetem,
bisnya berangkat. Dalam perjalanan pulang di bis, ak mulai galau, hatiku sangat
sesak, mata udah berkaca2 tapi malu nangis di bis. Dalam kegalauan itu,
tiba-tiba ponsel seluler ku bunyi. Kawanku nelpon sambil nangis-nangis
menceritakan masalahnya. Ak dengerin ceritanya padahal aku juga pengen nangis
pada saat itu karena masalahku. Poin yang kudapat dari kisahnya adalah bahwa
dia tetap mau berharap kepada Tuhan dan percaya bahwa solusinya dari Tuhan.
Sekonyong-konyong aku merefleksikan apa yang sedang kudengar dengan apa yang
sedang terjadi dengan diriku. Tentunya, masalahku tak ada apa-apanya dengan apa
yang kawanku alami tapi responnya jauh sangat berbeda dengan caraku ngadepin
kegalauanku di tanggal 14 Mei 2014. Ak mencoba ngalihin pikiranku ke posisi
kawan ini dan mulai berdoa dalam hati buat dia. Alhasil, rasa galauku dan
sesakku mulai hilang kemudian minta ampun sama Tuhan karena sempat ngebiarin
masalah menghimpit diriku. Turun dari bis, aku bisa tersenyum, hehe... :-)
Setibanya di kost, saya nyiapin makan malam. Taraaaa..ready
to save my lifeJ Sambil
mnghajar ‘home-made dinner’ ku di ruang TV kost, “Prime Time News” yang menjadi
salah satu program favoritku, ak set untuk menemani makan malamku. Lepas
program ini, tayangan“Mata Najwa” berlanjut,
ak masih nangkring di ruang TV dan tiba2 seorang adik kost berinisial nama P
datang minta saran dengan dress yang mau dia pake besoknya buat acara fotoan. Setelah
menemukan kostum yang sesuai, kami dan dua adik lainnya masih menikmati program
“Najwa”. Satu adik yang berinisial T ninggalin kami ga lama setelah acara
“Najwa”. Tinggallah diriku bersama adk P dan satu adk lagi berinisial I. Nah,
kami ngobrol2 akhirnya sampai ke cerita tentang Tuhan. Sempat tercetus olh adk
I klo dia sbenarnya smp hri ini mempertanyakan ttg Tuhan padahal dia rajin
beridah sesuai dengan ajaran agamanya. Keraguan dia ttg Tuhan dimulai dari SMA.
“Aku jg pernah ngeraguin Tuhan” cetusku.
Adk P ngasih tau klo dia sih slama ni hdpnya flat aja tpi
dia percaya Tuhan krna dia ngeliat gmn papanya bisa sembuh krna Tuhan. Adk P
cerita klo papanya sempat sakit yang ga terdiagnosa olh dokter tpi parah dan
hampir mau meninggal. Waktu sakitnya ga kambuh papanya ngantor dan pas break
papanya mampir k gereja yang ga jauh dari kantor papanya. Di gereja ini, papa P
berdoa sambil nangis dan sempat seorang romo datang k papa P dan mulai
mendoakannya. Sejak saat itu, papa P sembuh. Inilah alasan P percaya kalo Tuhan
ada.
Tiba2, adk I bertanya, “klo kk
gmn bs ngeraguin Tuhan?”.
Dan disinilah ak menceritakan cerita kelam yg pernah aku
lalui krna kecewa sma Tuhan dan ngeraguin Dia dan gmn Tuhan mngampuni ak dan
mulihin hdp ku. Intinya, ak bilang Tuhan itu hidup. Itulah, cara yang Tuhan
pakai untuk menolongku keluar dari rasa galauku dan ngejubahin ak dgn pakaian
kegirangan. Tanggal 14 Mei 2014 adalah satu momen dari ribuan momen ak
mengalami rasa riang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar